Pasar Monopoli, Oligopoli
dan Persaingan Monopolistik
I.
Pasar persaingan Monopoli
Suatu bentuk pasar di mana hanya terdapat satu penjual
yang menguasai pasar. Penentu harga pada pasar ini adalah seorang penjual atau
sering disebut sebagai "monopolis".
A.
Struktur dan karakteristik pasar
persaingan monopoli
Karakteristik Pasar Persaingan Monopoli
Karakteristik pasar monopoli sangat berbeda dengan pasar
persaingan sempurna. Uraian berikut menerangkan ciri – ciri monopoli :
- Pasar monopoli adalah industri satu perusahaan
- Tidak mempunyai barang pengganti yang mirip
- Tidak terdapat kemungkinan untuk masuk ke dalam industri
- Dapat mempengaruhi penentuan harga
- Promosi iklan kurang di perlukan
- Pasar monopoli adalah industri satu perusahaan
- Tidak mempunyai barang pengganti yang mirip
- Tidak terdapat kemungkinan untuk masuk ke dalam industri
- Dapat mempengaruhi penentuan harga
- Promosi iklan kurang di perlukan
B.
Faktor-faktor yang menimbulkan pasar
persaingan monopolI
Terdapat 3 faktor yaitu:
1.
Perusahaan mnopoli mempunyai sumber daya tertentu yang unik dantidakdi
miliki oleh orang lain.Contoh: Perusahaan
air minum di suatu kota adalah contoh lain darikekuasaan
monopoli yang memiliki sumber daya yang unik.
2.
Dapat menikmati skla EkonomiSkla yang maksimum
apabila tingkat produksinya adalah sangat besar jumlahnya.Skla ekonominya mempunyai sifat merupakan monopoli alamiah ataunatural
monopoly.
3.
Kekuasaan monopoli yang diperoleh melalui
peraturan pemerintahYaitu:
·
Perturan paten dan hak cipta. Hak cipta atau copy rights merupakan bentuk lain dari
hak paten, yaitu ia merupakan suatu jaminan hokum untuk menghindari
penjiplakan
·
Hak usaha eksklusif Aapbila sklala ekonomi
hanya di peroleh perusahaan itumencapai tingkat produksi yang sangat
tinggi,Tanpa adnya hak eksklusif untuk berusaha sebagi perusahaan monopoli
akan
C.
Aspek khusus pasar monopoli
Beberapa
aspek khusus pasar monopoli yaitu :
1.
ciri-ciri monopoli
2.
faktor yang menghambat masuk ke pasar monopoli
CIRI-CIRI PASAR MONOPOLI
·
Pasar
monopoli adalah Industri suatu perusahaan
·
Tidak mempunyai barang yang mirip
·
Tidak terdapat kemungkinan untuk masuk ke dalam industry
·
Dapat mempengaruhi penentuan harga
·
Promosi iklan kurang di perlukan
FAKTOR YANG MENIMMBULKAN MONOPOLI
·
Perusahaan mnopoli mempunyai sumber daya tertentu yang unik dantidakdi
miliki oleh orang lain.Contoh: Perusahaan
air minum di suatu kota adalah contoh lain darikekuasaan
monopoli yang memiliki sumber daya yang unik.
·
Dapat menikmati skla EkonomiSkla yang maksimum
apabila tingkat produksinya adalah sangat
besar jumlahnya.Skla ekonominya mempunyai sifat merupakan monopoli alamiah ataunatural
monopoly.
·
Kekuasaan monopoli yang diperoleh melalui
peraturan pemerintahYaitu:
v Perturan
paten dan hak cipta. Hak
cipta atau copy rights merupakan bentuk lain dari hak paten, yaitu ia merupakan
suatu jaminan hokum untuk menghindari penjiplakan
v Hak
usaha eksklusif Aapbila sklala ekonomi hanya di peroleh perusahaan
itumencapai tingkat produksi yang sangat tinggi,Tanpa adnya hak eksklusif
untuk berusaha sebagi perusahaan monopoli akan
D.
Memaksimumkan keuntungan di pasar
persaingan monopoli
Dalam menggambarkan prinsip
penentuan pemaksimuman keuntungan dalam monopoli dua cara akan di gunakan,yaitu
dengan menggunakan angka dan secara grafik. Untuk masing-masing cara ini akan
di tunjukanprinsip penentuan pemaksimuman keuntungan berdasarkan pendekatan :
1.
Biaya total dan hasil penjualan total
2.
Biaya marginal dan hasil penjualan marginal
3.
Produksi, Harga Dan Penjualan
Telah dinyatakan bahwa dalam
monopoli hanya ada satu perusahaan dalam pasar. Oleh karenanya permintaan dalam
industri adalah juga permintaan ke atas produksi perusahaan monopoli tersebut.
Dalam menerangkan mengenai persaingan sempurna telah di jelaskan bahwa permintaan bersifat elastis sempurna (yaitu kurva permintaan adalah sejajar dengan sumbu datar) dan sebabnya adalah karena berapapun produksi yang di jual prusahaan,harga tidak berubah. Sebagai akibatnya harga = penjualan marginal – yaitu P = MR . Permintaan yang dihadapi oleh monopoli adalah berbeda dengan yang di hadapi oleh suatu perusahaan dalam persaingan sempurna. Sebagai akibatnya dalam monopoli harga selalu lebih tinggi dan hasil penjualan marginal.
Apabila harga barang menjadi semakin menurun pada waktu jumlah produksi semakin meningkat,maka
Dalam menerangkan mengenai persaingan sempurna telah di jelaskan bahwa permintaan bersifat elastis sempurna (yaitu kurva permintaan adalah sejajar dengan sumbu datar) dan sebabnya adalah karena berapapun produksi yang di jual prusahaan,harga tidak berubah. Sebagai akibatnya harga = penjualan marginal – yaitu P = MR . Permintaan yang dihadapi oleh monopoli adalah berbeda dengan yang di hadapi oleh suatu perusahaan dalam persaingan sempurna. Sebagai akibatnya dalam monopoli harga selalu lebih tinggi dan hasil penjualan marginal.
Apabila harga barang menjadi semakin menurun pada waktu jumlah produksi semakin meningkat,maka
Hasil penjualan total akan
mengalami pertambahan,tetapi pertambahan itu semakin berkurang apabila produksi
bertambah banyak. Setelah mencapai satu tingkat produksi tertentu pertambahanya
akan menjadi negatif.
Pada umumnya hasil penjualan
marginal nilainya adalah lebih rendah dari pada harga. Hanya pada waktu
produksi mencapai satu unit hasil penjualan marjinal = harga.
E.
Keseimbangan jangka pendek dan jangka
panjang pasar persaingan monopoli
Keseimbangan Jangka Pendek
Permintaan yang di hadapi perusahaan dalam pasar persaingan
monopoli tidaklah elastis sempurna
walaupun sangat elastis. Dengan demikian, Secara grafis, kurva permintaan yang
dihadapi perusahaan mempunyai slope. Sekilas, kurva keseimbangan perusahaan
pada pasar persaingan monopolistik sama dengan keseimbangan pada pasar
monopoli. Akan tetapi sesungguhnya tidak sama. Bentuk kurvanya memang serupa,
tetapi tidak sama. Perbedaan pokok antara kurva keseimbangan pada pasar
persaingan monopolistik dan pada pasar monopoli adalah terletak pada kemiringan
kurva
Keseimbangan Jangka Panjang
Monopolis
dalam jangka panjang bisa mendapatkan keuntungan diatas normal dan biaya
rata-rata yang dicapai bukan biaya yangterendah (berlawanan dg kondisi
pasar persaingan sempurna
F.
Monopoli alamiah dan pengendalian harga
Arti dari monopoli alamiah adalah
perusahaan yang terus menerus menikmati skala ekonomi hingga pada tingkat
produksi yang sangat banyak jumlahnya,berarti AC terus menerus turun hingga ke
tingkat produksi yang sangat tinggi.
Apabila kegiatan monopoli alamiah
didasarkan kepada tujuan memaksimumkan keuntungan,kegiatan yang seperti itu
akan menimbulkan kerugian yang besar kepada masyarakat. Mereka harus menbayar
barang dan jasa yang di hasilkan perusahaan itu pada harga yang relatif tinggi.
Di samping itu jumlah barang dan jasa yang di tawarkan adalah lebih rendah dari
jumlah barang yang dapat di produksikanya secara optimal.
Untuk memaksimumkan manfaat dari
kegiatan perusahaan seperti itu,campur tangan pemerintah yang menjamin agar
kegiatan perusahaan tersebut akan menguntungkan masyarakat sangat di perlukan.
Campur tangan tersebut biasanya di lakukan dengan mengendalikan dan menetapkan
harga barang dan jasa yang di hasilkan perusahaan monopoli. Adakalanya yaitu
apabila harga yang di tetapkan terlalu rendah ,pemerintah memberikan subsidi
kepada perusahaan monopoli alamiah
Pengendalian harga dalam Monopoli ilmiah
Perusahaan yang terus menerus menikmati skala ekonomi hingga
pada tingkat produksi yang sangat banyak jumlahnya,berarti AC terus menerus
turun hingga ketingkat produksi yang tinggi. Pada waktu biayarata-rata mencapai
minimum tingkat produksi telah meliputi sebagian besar dari kebutuhan
masyarakat.
G.
Penilaian atas monopoli
1. Biaya Produksi Sama
Perbandingan efisiensi diantara pasar persaingan sempurna
dan monopoli menggunakan sumber daya, memproduksikan barang, dan meminimumkan
biaya produksi per unit
2. Biaya Produksi Berbeda
kurva menunjukan efek dari biaya produksi yang berbeda
diantara pasar persaingan sempurna dan monopoli terhadap harga dan jumlah
produksi dalam monopoli
H.
Biaya sosial monopoli
Biaya Sosial
Monopoli (Sosial Cost of Monopoly)
Beberapa kerugian yang dialami masyarakat (biaya
social), antara lain :
a.
Hilang atau berkurangnya Kesejahteraan
Konsumen ( Dead Weight Loss) dalam pasar monopoli
keseimbangan perusahaan tercapai pada titik A.Tambahan laba bersih
yang dinikmati perusahaan monopolis adalah sebesar luas segiempat PkPmAC
dikurangi luas setiga FCB
b. Memburuknya Kondisi Makroekonomi Nasionalc. Memburuknya
Kondisi Perekonomian Internasional
I.
Kebaikan dan keburukan pasar persaingan monopoli
1. Implikasi terhadap
kesejahteraan masyarakat yang perlu diperhatikan adalah bahwa dalam pasar
monopoli
·
Hilang atau berkurangnya tingkat kesejahteraan
konsumen, hal ini terjadi karena volume produksi lebih kecil dari volume output
yang optimum, inefisiensi ini menimbulkan kesejahteraan konsumen yang semakin
berkurang.
·
Menimbulkan eksploitasi terhadap konsumen dan
pemilik faktor produksi.
·
Memburuknya kondisi makroekonomi nasional, sebab
jumlah output riil industry lebih sedikit dari pada kemampuan sebenarnya.
·
Memburuknya kondisi perekonomian internasional,
hal ini terjadi karena munculnya inefisiensi.
·
Melalui penetapan Undang-Undang Anti-Trust
·
Pemerintah mendirikan perusahaan tandingan di
dalam pasar tersebut dengan tujuan untuk member persaingan kepada si monopolis
untuk membatasi kekuasaan monopolinya.
·
Membuka kran impor sehingga barang buatan luar
negeri bisa memberikan persaingan kepada barang dalam negeri.
·
Dengan membuat ketentuan khusus terhadap operasi
perusahaan monopoli tersebut.
3. Monopoli tidak selalu
buruk dari pada persaingan sempurna, yaitu bila kita lihat dari segi lain :[8]
·
Monopoli mendorong perusahaan untuk melakukan
inovasi baru dalam produknya.
·
Dalam kasus monopoli alamiah, dimana luas pasar
terbatas dan skalaekonomis yang besar, maka sangat tidak efisien bila
diharapkan dalam bentuk industri persaingan sempurna.
II.
Pasar persaingan oligopoli
Pasar Oligopoli adalah suatu
bentuk pasar yang terdapat beberapa penjual dimana salah satu atau beberapa
penjual bertindak sebagai pemilik pasar terbesar (price leader). Umumnya jumlah
perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh.
A.
Struktur pasar dan karakteristik pasar
persaingan oligopoli
Ada beberapa karakter pasar oligopoli, antara lain adalah :
·
Hanya Sedikit Perusahaan Dalam Industri (Few
Number of Firms). Secara
teoristis sulit sekali untuk menetapkan berapa jumlah perusahaan di dalam
pasar, agar dapat dikatakan oligopoli. Namun untuk dasar analisis biasanya
jumlah perusahaan diasumsikan kurang dari sepuluh. Dalam kasus tertentu hanya
terdapat dua perusahaan (duopoli). Kekuatan perusahaan-perusahaan dalam
industri dapat diukur dengan menghitung rasio konsentrasi (concentration
ratio). Rasio konsentrasi menghitung berapa persen output dalam pasar oligopoli
dikuasai oleh perusahaan-perusahaan yang dominan (empat sampai dengan delapan
perusahaan). Jika rasio konsentrasi empat perusahaan (four firms concentration
ratio atau CR4) adalah 60%, berarti 60% output dalam industri dikuasai oleh
empat perusahaan terbesar. CR4 yang semakin kecil mencerminkan struktur pasar
yang semakin bersaing sempurna. Pasar suatu industri dinyatakan berstruktur
oligopolistik apabila CR4 melebihi 40%. Dapat juga diukur delapan perusahaan
(CR8) atau jumlah lainnya. Jika CR8 80, berarti 80% penjualan output dalam
industri dikuasai oleh delapan perusahaan terbesar.
·
Produk Homogen atau Terdiferensiasi (Homogen or
Diferentiated Product). Dilihat
dari sifat output yang dihasilkan, pasar oligopoli merupakan peralihan antara
persaingan sempurna dengan monopoli. Perbedaan sifat output yang dihasilkan
akan mempengaruhi perilaku perusahaan dalam mencapai kondisi optimal (laba
maksimum). Jika dalam pasar persaingan sempurna perusahaan mengatur jumlah
output (output strategy) untuk meningkatkan laba, dalam pasar monopoli hanya
satu perusahaan yang mampu mengendalikan harga dan output, maka dalam pasar
oligopoli bentuk persaingan antar perusahaan adalah persaingan harga (pricing
strategy) dan non harga (non pricing strategy). Contoh pasar oligopoli yang
menghasilkan produk diferensiasi adalah industri mobil, rokok, film kamera.
Sedangkan yang menghasilkan produk homogen adalah industri baja, pipa, paralon,
seng dan kertas.
Penggolongan ini mempunyai arti penting dalam menganalisis pasar yang oligopolistik. Semakin besar tingkat diferensinya, perusahaan makin tidak tergantung pada kegiatan perusahaan-perusahaan lainnya. Berarti oligopoli dengan produk diferensiasi dapat lebih mudah memprediksi reaksi-reaksi dari perusahaan-perusahaan lawan.
Di luar unsur modal, rintangan untuk masuk ke dalam industri oligopoli yang menghasilkan produk homogen lebih sedikit, karena pada industri oligopoli dengan produk diferensiasi sangat berkaitan dengan loyalitas konsumen terhadap produk (merek) tertentu.
Penggolongan ini mempunyai arti penting dalam menganalisis pasar yang oligopolistik. Semakin besar tingkat diferensinya, perusahaan makin tidak tergantung pada kegiatan perusahaan-perusahaan lainnya. Berarti oligopoli dengan produk diferensiasi dapat lebih mudah memprediksi reaksi-reaksi dari perusahaan-perusahaan lawan.
Di luar unsur modal, rintangan untuk masuk ke dalam industri oligopoli yang menghasilkan produk homogen lebih sedikit, karena pada industri oligopoli dengan produk diferensiasi sangat berkaitan dengan loyalitas konsumen terhadap produk (merek) tertentu.
·
Pengambilan Keputusan Yang Saling Mempengaruhi
(Interdependence Decisions). Keputusan
perusahaan dalam menentukan harga dan jumlah output akan mempengaruhi
perusahaan lainnya, baik yang sudah ada (existing firms) maupun yang masih di
luar industri (potensial firms). Karenanya guna menahan perusahaan potensial
untuk masuk industri, perusahaan yang sudah ada menempuh strategi menetapkan
harga jual terbatas (limiting prices) yang membuat perusahaan menikmati laba
super normal di bawah tingkat maksimum.
B.
Faktor-faktor yang menimbulkan pasar
persaingan oligopoli
a. Efisiensi Skala Besar
Dalam dunia nyata, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam
industri mobil, semen, kertas, pupuk, dan peralatan mesin, umumnya berstruktur
oligopoly. Tekhnologi padat modal (capital intensive) yang dibutuhkan
dalam proses produksi menyebabkan efisiensi (biaya rata-rata minimum) baru
tercapai bila output diproduksi
dalamskala sangat besar. Keadaan diatas merupaka hambatan untuk masuk (barriers
to entry) bagi perusahaan pesaing. Tidak mengherankan jika dalam pasar
oligopoly hanya terdapat sedikit produsen.
b. Kompleksitas Manajemen
Berbeda dengan tiga struktur pasar lainnya (persaingan
sempurna, monopoli,dan pasar monopolistik), struktur pasar oligopoli ditandai
dengan kompetisi harga dan non harga. Perusahaan juga harus cermat
memperhitungkan setiap keputusan agar tidak menimbulkan reaksi yang merugikan
dari perusahaan pesaing. Karena dalam industri oligopoli, kemampuan keungan
yang besar saja tidak cukup sebagai modal untuk bertahan dalam industri.
Perusahaan juga harus mempunyai kemampuan manajemen yang sangat baik agar mampu
bertahan dalam struktur industry yang persaingannya lebih kompleks. Tidak
banyak perusahaan yang memilki kemampuan tersebut, sehingga dalam pasar
oligopoli akhirnya hanya terdapat sedikit produsen.
C.
Penilaian atas pasar oligopoli
1.
Efisiensi Penggunaan Sumber Daya
Efisiensi penggunaan factor- factor produksi akan tercapai saat marginal revenue cost sama dengan marginal revenue. Keadaan ini hanya mungkin tercapai apabila tingkat harga adalah sama dengan biaya rata-rata yang paling rendah(ditunjukan oleh titik paling rendah dalam kurva AC).
Efisiensi penggunaan factor- factor produksi akan tercapai saat marginal revenue cost sama dengan marginal revenue. Keadaan ini hanya mungkin tercapai apabila tingkat harga adalah sama dengan biaya rata-rata yang paling rendah(ditunjukan oleh titik paling rendah dalam kurva AC).
2.
Pengembangan Teknologi Dan Inovasi.
Dorongan untuk mengembangkan teknologi dapat terus berlanjut karena perusahaan dalam pasar oligopoli tidak dapat mengandalkan upaya menarik konsumen melalui persaingan harga yang pada akhirnya akan menimbulkan perang harga .
Dorongan untuk mengembangkan teknologi dapat terus berlanjut karena perusahaan dalam pasar oligopoli tidak dapat mengandalkan upaya menarik konsumen melalui persaingan harga yang pada akhirnya akan menimbulkan perang harga .
3.
Tingkat
Perolehan Keuntungan
Persaingan terutama datang dari perusahaan-perusahaan yang sudah ada dalam industri, dan dengan mengadakan persepakatan persaingan masih dapat dikurangi lebih lanjut. Persaingan yang dapat di batasi ini memungkinkan perusahaan memperoleh keuntungan yang melebihi normal.
Persaingan terutama datang dari perusahaan-perusahaan yang sudah ada dalam industri, dan dengan mengadakan persepakatan persaingan masih dapat dikurangi lebih lanjut. Persaingan yang dapat di batasi ini memungkinkan perusahaan memperoleh keuntungan yang melebihi normal.
D.
Memaksimumkan keuntungan di pasar
persaingan oligopoli
Pada kondisi kurva permintaan
yang dihadapi perusahaan adalah kurva bengkok, dan kurva marginal revenuenya
adalah kurva terputus. Penjualan
sering menambah biaya produksi dengan suatu aturan yang sederhana, yaitu
menigkatkan mempertahan kan pangsa pasar. Pegangan ini dapat membantu
perusahaan oligopoli dalam menetapkan volume penjualan, dengan mengabaikan
interdependensi dan reaksi pesaing. Perusahaan hanya melihat peranan skala
ekonomi, pertumbuhan, pangsa pasardan sebagainya. Aturan-aturan seperti ini
dapat meningkatkan output penjualan di mana keuntungan perusahaan maksimum.
Memaksimumkan penjualan dapat menurunkan harga penjualan tetapi menaikkan
volume output yang dijual lebih. Tetapi sekali lagi, hasilnya mungkin agak
konvensional. Memaksimumkan penjualan dapat menjadi konsisten dengan
maksimisasi keuntungan jangka panjang. Inilah yang diharapkan manajer-manajer
pada akhir orientasi pertumbuhan perusahaan mereka.
E.
Keseimbangan jangka pendek dan jangka
panjang pasar persaingan oligopoli
1.
Jangka panjang
Dalam jangka panjang, oligopoly dapat menyebabkan efek yang merugikan seperti berikut ini :
Dalam jangka panjang, oligopoly dapat menyebabkan efek yang merugikan seperti berikut ini :
·
P > MC dan karenanya terdapat inefiensi
alokasi sumber daya ekonomi ke perusahaan-perusahaan dalam industry
oligopolistic
·
Perusahaan-perusahaan oligopoly biasanya tidak
berproduksi pada titik terendah kurva LAC-nya dan
·
Ketika
oligopoly memproduksi produk yang terdiferensiasi, terlalu banyak biaya yang
dibuang untuk iklan dan perubahan model. Namun dalam jangka panjang oligopoly
juga dapat memperoleh laba.
2. Jangka pendek
Ekuilibrium pasar tercapai bila volume output yang ditawarkan seluruh produsen di pasar sama dengan volume output yang dibutuhkan oleh seluruh konsumen
2. Jangka pendek
Ekuilibrium pasar tercapai bila volume output yang ditawarkan seluruh produsen di pasar sama dengan volume output yang dibutuhkan oleh seluruh konsumen
F.
Kebaikan dan keburukan pasar persaingan
oligopoli
Kebaikan
pasar oligopoli
1. Memberi kebebasan memilih bagi pembeli.
2. Mampu melakukan penelitian dan
pengembangan produk.
3. Lebih memperhatikan kepuasan konsumen
karena adanya persaingan penjual.
4. Adanya penerapan teknologi baru
Keburukan
pasar oligopoli
1. Menciptakan ketimpangan distribusi pendapatan
2. Harga yang stabil dan terlalu tinggi bisa mendorong
timbulnya inflasi
3. Bisa timbul pemborosan biaya produksi apabila ada
kerjasama antar oligopolis karena
semangat
bersaing kurang
4. Bisa timbul eksploitasi terhadap pembeli dan pemilik
faktor produksi
5. Sulit ditembus/dimasuki perusahaan baru
6. Bisa berkembang ke arah monopoli
III.
Pasar persaingan monopolistik
Pasar Monopolistik adalah
salah satu bentuk pasar di mana terdapat banyak produsen yang
menghasilkan barang serupa tetapi memiliki perbedaan dalam beberapa aspek.
Penjual pada pasar monopolistik tidak terbatas, namun setiap produk yang
dihasilkan pasti memiliki karakter tersendiri yang membedakannya dengan produk
lainnya. Contohnya adalah : shampoo, pasta gigi, dll. Meskipun fungsi
semua shampoo sama yakni untuk membersihkan rambut, tetapi setiap produk yang
dihasilkan produsen yang berbeda memiliki ciri khusus, misalnya perbedaan
aroma, perbedaan warna, kemasan, dan lain-lain.
A.
Struktur dan karakteristik pasar
persaingan Monopolistik
Struktur pasar monopolistik terjadi manakala jumlah produsen
atau penjual banyak dengan produk yang serupa/sejenis, namun di mana konsumen
produk tersebut berbeda-beda antara produsen yang satu dengan yang lain. Contoh
produknya adalah seperti makanan ringan (snack), nasi goreng, pulpen, buku, dan
sebagainya
karakteristik pasar monopolistik :
karakteristik pasar monopolistik :
·
Adanya differensiasi produk(produk yang dijual
mungkin sama namun memiliki perbedaansatu sama lain)
·
Mirip
dengan pasar persaingan sempurna
·
Brand
yang menjadi ciri khas produk berbeda-beda
·
Produsen atau penjual hanya memiliki sedikit
kekuatan merubah harga
·
Relatif
mudah keluar masuk pasar
·
Promosi
penjualan harus aktif. Pada pasar ini harga bukan merupakan pendongkrak jumlah
konsumen, melainkan kemampuan perusahaan menciptakan citra baik dimata konsumen,
sehingga dapat menimbulkan fanatisme terhadap produk.
B.
Faktor-faktor yang menimbulkan pasar
persaingan Monopolistik
·
Memiliki bahan mentah strategis atau pengetahuan
teknis produksi yang spesifik
·
Hak paten produk atau proses produksi
·
Terdapat skala ekonomis
·
Pemberian hak monopoli oleh pemerintah melalui
peraturan pemeritah
C.
Memaksimumkan keuntungan di pasar
persaingan Monopolistik
Kurva permintaan yang dihadapi
oleh perusahaan dalam persaingan monopolistik lebih elastis dari yang dihadapi
monopoli. Tetapi tidak sampai mencapai elastis sempurna sebagaimana kurva
permintaan yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan dalam pasar persainagn
sempurna.
1. Pemaksimuman keuntungan
jangka pendek
Permintaan yang dihadapi perusahaan dalam persaingan
monopolistik adalah sebagian dari keseluruhan permintaan pasar. Keuntungan
maksimum akan dicapai apabila perusahaan terus berproduksi sampai pada tingkat
tercapainya MC=MR. Perusahaan akan memperoleh laba diatas normal pada jangka
pendek.
2. Pemaksimuman keuntungan
jangka panjang
Keuntungan yang melebihi normal menyebabkan pertambahan
jumlah perusahaan dipasar. Dengan demikian setiap perusahaan yang ada di
pasar akan menghadapi permintan yang semakin berkurang pada berbagai tingkat
harga. Sehingga keuntungan pun akan semakin menurun ketingkat normal. Bahkan
akan merugi jika penerimaan marjinal lebih kecil dari biaya marjinal
(MR<MC).
Disinilah letak ketidakefisienan pasar persaingan
monopolistik. Ada dua penyebab ketidakefisienan pasar persaingan monopolistik,
yaitu:
a. Harga jual masih
lebih besar dari biaya marjinal (P>MC)
b. Kapasitas berlebih (Excess
Capacity)
Jika perusahaan menderita kerugian minimum, maka ia akan
keluar dari pasar. Akibatnya, jumlah perusahaan dalam pasar semakin sedikit sehingga
jumlah permintaan yang dihadapi perusahaanperusahaan yang masih ada menjadi
lebih besar. Kejadian keluarnya perusahaan dari pasar akan berlangsung terus
sampai perusahaan memperoleh keuntungan normal. Dalam keadaan seperti ini tidak
ada lagi perusahaan yang masuk ke pasar dan juga tidak ada lagi yang keluar
dari pasar. Inilah yang disebut keseimbangan jangka panjang perusahaan
persaingan monopolistik.
D.
Keseimbangan jangka pendek dan jangka
panjang pasar persaingan Monopolistik
Keseimbangan Pasar jangka pendek
Keseimbangan jangka pendek
perusahaan tercapai bila MR=MC. Karena memiliki daya monopoli, walau terbatas,
kondisi keseimbangan perusahaan yang bergerak dalam pasar persaingan
monopolistik sama dengan perusahaan yang bergerak dalam pasar persaingan
monopoli.
Keseimbangan Pasar Jangka Panjang
Dibandingkan dengan pasar
monopoli, persaingan monopolistik masih lebih baik dilihat dari lebih kecilnya
total ksesejahteraan yang hilang (dead weight loss). Namun tetap kurang efesien
dibanding pasar persaingan sempurna. Ada dua penyebab mengapa pasar persaingan
monopolistic tidak dapat lebih efisien dibanding pasar persaingan sempurna.
1. Harga jual masih lebih besar dari biaya marginal
(P>MC)
Karena memiliki daya monopoli, perusahaan dalam pasar
persaingan monopolistic mampu membebankan harga jual yang lebih tinggi dari
biaya marjinal (P>MC).
Namun demikian karena kurva permintaan yang dihadapi sangat
elastis, maka selisih harga dan biaya marjinal tidak sebesar dalam perusahaan
monopolis.
2. Kapasitas Berlebih (Excess Capacity)
Telah dinyatakan, karena sangat mudahnya perusahaan untuk
keluar dan masuk, dalam jangka panjang perusahaan yang beroperasi dalam pasar
persaingan monopolistic hanya menikmati laba normal. Keadaan tersebut kita
gambarkan kembali dalam bentuk diagram berikut ini.
E.
Penilaian atas Monopolistik
Salah satu kegiatan penting yang
di lakukan oleh perusahaan monopolistik adalah melakukan promosi penjualan
secara iklan. Kebaikan dan keburukan dari kegiatan ini dinilai dalam bagian
berikut.
Efisiensi dalam menggunakan sumber daya
Untuk menilai sampai di mana
efisiensi pasar persaingan monopolistik di dalam mengalokasikan sumber-sumber
daya, akan dibuat suatu perbandingan dengan efisiensi peusahaan dalam pasar
persaingan sempurna. Kesimpulan pokok yang dapat dibuat dari membuat
perbandingan tersebut adalah:
Walaupun perusahaan persaingan
sempurna dan monopolistik sama-sama mendapat keuntungan normal, tetapi dalam
perusahaan monopolistik biaya produksi per unit lebih tinggi, harga barang
lebih tinggi, dan jumlah produksi lebih rendah (sehingga menyebabkan kapasitas
memproduksi yang digunakan adalah di bawah tingkat yang optimal).
Efisiensi dan diferensiasi produk
Perusahaan persaingan
monopolistik bersifat berbeda corak, yaitu ia berbeda dari segi mutu barangnya,
pengemasannya, dan pelayanan setelah penjualan. Perbedaan ini menyebabkan para
konsumen mempunyai pilihan yang lebih baik dari pilihan yang dapat dibuat
mereka di dalam pasar persaingan sempurna. Pilihan yang lebih baik ini
dapatlah dipandang sebagai kompensasi kepada penggunaan sumber-sumber daya yang
kurang efisien.
Perkembangan teknologi dan inovasi
Pada umumnya ahli ekonomi
berpendapat bahwa pasar persaingan monopolistik memberikan dorongan yang
sangat terbatas untuk melakukan perkembangan teknologi. Terbatasnya
dorongan tersebut disebabkan karena dalam jangka panjang perusahaan hanya
memperoleh keuntungan normal. Keuntungan yang melebihi normal didalam jangka
pendek dapat mendorong kepada kegiatan mengembangkan teknologi. Keuntungan
melebihi normal yang diperoleh akan mendorong perusahaan-perusahaan lain untuk
masuk ke industi tersebut, dan ini akan terus berlangsung sehingga keuntungan melebihi
normal tidak ada lagi. Maka dalam jangka panjang keuntungan yang diperoleh dari
perkembangan teknologi dan melakukan inovasi tidak dapaat lagi dinikmati.
Distribusi pendapatan
Persaingan monopolistik
mengakibatkan corak distribusi pendapatan yang sama sifatnya seperti yang
biasanya terdapat dalam persaingan sempurna, yaitu distribusi pendapatan adalah
seimbang. Ahli-ahli ekonomi berpendapat bahwa pasar persaingan monopolistik
menimbulkan corak distribusi pendapatan yang lebih merata.
F.
Persaingan bukan harga
Persaingan bukan harga adalah kegiatan usaha diluar
perubahan harga yang
dilakukan oleh perusahaan untuk menarik lebih banyak
pembeli. Persaingan
bukan
harga dapat dibedakan menjadi dua jenis:
1.
Diferensiasi produk yaitu menciptakan berang
sejenis tetapi berbeda coraknya
dengan produksi perusahaan lain.
2.
Iklan dan
berbagai bentuk promosi penjualan. Salah satunya kegiatan penting
yang dilakukan oleh monopolis adalah melakukan promosi
penjualan secara
iklan. Tujuan yang hendak dicapai adalah:
• Untuk memperkenalkan produk kepada konsumen
• Untuk menekankan bahwa barang yang dihasilkan
perusahaannya adalah barang yang terbaik.
• Untuk memelihara hubungan baik dengan para konsumen.
G.
Pengaturan perusahaan Monopolistik
Ketidakefisienan yang dihasilkan perusahaan yang beroperasi
dalam pasar persaingan monopolistik menimbulkan pertanyaan, apakah perlu
pengaturan ? Jawabannya adalah TIDAK!!!! Hal ini berlandaskan tiga argumen:
a.
Daya monopoli yang relatif kecil menyebabkan
kesejahteraan yang hilang (dead weight loss) relatif kecil
b.
Permintaan yang sangat elastis menyebabkan
kelebihan kapasitas produksi relatif kecil
c.
Ketidakefisienan yang dihasilkan perusahaan yang
beroperasi dalam persaingan pasar monopolistik diimbangi dengan kenikmatan
konsumen karena beragamnya produk, peningkatan kualitas, dan meningkatnya
kebebasan konsumen dalam memilihoutput.
H.
Kebaikan dan keburukan pasar persaingan
Monopolistik
Pasar Monopolistik memiliki KEBAIKAN sebagai berikut :
1.
Banyaknya produsen di pasar memberikan keuntungan
bagi konsumen untuk dapat memilih produk yang terbaik baginya.
2.
Kebebasan keluar masuk bagi produsen, mendorong
produsen untuk selalu melakukan inovasi dalam menghasilkan produknya.
3.
Diferensiasi produk mendorong konsumen untuk
selektif dalam menentukan produk yang akan dibelinya, dan dapat membuat
konsumen loyal terhadap produk yang dipilihnya.
4.
Pasar ini
relatif mudah dijumpai oleh konsumen, karena sebagian besar kebutuhan
sehari-hari tersedia dalam pasar monopolistik.
Pasar Monopolistik juga memiliki KELEMAHAN sebagai berikut :
1.
Pasar monopolistik memiliki tingkat persaingan
yang tinggi, baik dari segi harga, kualitas maupun pelayanan. Sehingga produsen
yang tidak memiliki modal dan pengalaman yang cukup akan cepat keluar dari
pasar.
2.
Dibutuhkan modal yang cukup besar untuk masuk
ke dalam pasar monopolistik, karena pemain pasar di dalamnya memiliki skala
ekonomis yang cukup tinggi.
3.
Pasar ini
mendorong produsen untuk selalu berinovasi, sehingga akan meningkatkan biaya
produksi yang akan berimbas pada harga produk yang harus dibayar oleh konsumen.
MINGGU KE-11
Pasar faktor produksi
Pasar faktor produksi adalah tempat bertemunya permintaan dan
penawaran faktor-faktor produksi yang berupa alam (tanah), tenaga kerja, modal
(uang), dan pengusaha
I.
Konsep dasar permintaan tenaga kerja
I. Konsep permintaan
Permintaan adalah suatu hubungan antar harga dan kuantitas. Sehubungan dengan tenaga kerja, permintaan adalah hubungan antara tingkat upah (yang ditilik dari prespektif seorang majikan adalah harga tenaga kerja) dan kuantitas tenaga kerja yang dikehendaki oleh majikan untuk dipekerjakan (dalam hal ini dapat dikatakan dibeli). Secara khusus, suatu kurva permintaan menggambarkan jumlah maksimum yang dikehendaki seorang pembeli untuk membelinya pada setiap kemungkinan harga dalam jangka waktu tertentu. Dalam hal tenaga kerja, kurva permintaan menggambarkan jumlah maksimum tenaga kerja yang seorang tenaga kerja pengusaha bersedia untuk mempekerjakannya pada setiap kemungkinan tingkat upah dalam jangka waktu tertentu.
Oleh sebab itu tujuan kita adalah mengembangkan kerangka yang menunjukan jumlah tenaga kerja yang diminta pihak perusahaan pada berbagai macam alternatif harga tenaga kerja. Permintaan akan tenaga kerja ini kita dapatkan dari suatu perangkat keadaan yang disebut jangka pendek, yang patut menjadi bahan tinjauan tambahan yang terpaksa harus diterima oleh pengusaha, baik menyangkut harga jual produk maupun tingkat upah yang diberikan. Setelah kita kita mengembangkan permintaan perusahaan akan tenaga kerja dalam jangka waktu pendek, maka kita mengalihkan perhatian kepada permintaan tenaga kerja menggunakan berbagai macam input. Teori yang kita sajikan ini dikenal sebagai teori produktivitas marjinal tentang permintaan tenaga kerja dalam pasar-pasar yang bersaingan.
II. Permintaan Tenaga Kerja Dalam Jangka Pendek
a. Hubungan Produksi : Produk Fisik Marjinal
Gambar: isokuan produksi bagi batubara. Setiap kuantitas batubara yang diberikan dapat dihasilkan dengan berbagai macam kombinasi tenaga kerja dan modal. Misalnya, 19 ton batubara dapat dihasilkan dengan 4 unit modal dan 1 unit tenaga kerja atau dengan 3 modal dan 2 unit tenaga kerja.
Hubungan input-output pada suatu perusahaan yang khusus, digambarkan secara grafik pada gambar di atas. Unit modal yang digunakan dalam proses produksi diperlihatkan dalam sumbu vertikal; unit tenaga kerja, yang kita ukur dengan hari-hari kerja, diperlihatkan oleh garis sumbu yang horisontal. Garis-garis kurva yang disebut isokuan (isuquants) memperlihatkan berbagai macam kombinasi tenaga kerja dan modal yang dapat digunakan peruhaan untuk menghasilkan “kuantitas yang sama” dari output. Misalnya, perusahaan kita yang khusus itu, yang sengaja kita andaikan mengelola sebuah tambang batubara, dapat menambah 19 ton batubara dengan cara menggunakan lima unit modal dan dua unit tenaga kerja, atau dengan cara kombinasi lainnya antara tenaga kerja dengan modal pada isokuan yang sama. Tenaga kerja dan modal lalu merupakan subsitusi dalam proses produksi.
Sebagaimana dapat kita lihat dari gambar di atas, maka perusahaan dapat meningkatkan outputnya dari 19 ton batubara, katakanlah menjadi 27 ton dengan cara meningkatkan jumlah modal yang digunakannya, dengan cara meningkatkan jumlah modal yang digunakannya atau dengan meningkatkan jumlah tenaga kerja yang digunakannya, atau meningkatkan kedua input tsb. Apabila diberi kebebasan untuk memilih, maka pengusaha akan menghasilkan setiap jenis output khusus dengan kombinasi modal dan tenaga kerja yang paling sedikit biayanya. Akan tetapi oleh karena asumsi kita bahwa merubah kuantitas modal yang ia gunakan. Perusahaan dalam jangka pendek tidak dapat menambah output kecuali dengan menambah penggunaan tenaga kerja.
b. Skedul Nilai Produk Fisik Marjinal.
Kita telah mengasumsikan bahwa perusahaan kita menjual produknya dalam suatu pasar produk yang bersaing secara murni, gambar di bawah menunjukan penentuan harga dalam pasar produk dimana perusahaan itu menjual outputnya. Harga pasar batubara ditentukan oleh interaksi permintaan akan batubara dan penawaran batubara.
(a) Pasar (b) perusahaan
Kurva permintaan batubara, pasar dan perusahaan. Harga batubara ditentukan oleh interaksi permintaan pasar D dan penawaran S seperti pada panel a. Sebagai akibatnya, kurva permintaan dalam persaingan murni adalah elastis tak terhingga pada harga pasar $ 40.
Menjual suatu output apapun di atas harga ini, memang tidak ada alasan untuk menjual di bawah harga ini karena ia dapat menjual sebanyak mungkin batubara yan gia kehendaki dengan harga $ 40 per ton. Penerimaan perusahaan itu akan bertambah dengan $ 40 bagi setiap ton batubara yang dijualnya, suatu jumlah yang sama dengan harga penjualan produk.
Kita sekarang dapat menyusun suatu skedul yang memperlihatkan jumlah yang dapat meningkatkan penerimaan perusahaan jika ia menambah penggunaan tenaga kerja. Apabila perusahaan itu menambahkan penggunaan tenaga kerja lagi, maka penerimaannya akan bertambah dengan jumlah nilai produk fisik marjinal VMPP, yang merupakan harga dari tiap unit output P, dikalikan dengan jumlah unit output yang dihasilkan oleh unit tenaga kerja tambahan (MMP bagi tenaga kerja dari gambar di bawah) menggambarkan skedul VMMP bagi produsen batubara kita. Sebagaimana gambar memperlihatkan kepada kita, setiap urutan input tenaga kerja mengandung secara berturut-turut peneerrimaan yang makin berkurang bagi perusahaan. Hal, ini disebabkan oleh adanya diminshing returns dalam produksi. Unit tenaga kerja pertama menambahkan $ 400 bagi penerimaan perusahaan, unit yan gkedua menambahkan $ 360 dan unit yan gketiga menambahkan $ 320. Karena unit tenaga kerja yang kesebelas mempunyai MPP nol, maka penggunaan unit itu tiadak akan mendatangkan penerimaan tambahan bagi perusahaan.
Nilai produk fisik marginal bagi suatu perusahaan dalam persaingan murni nilai. Nilai produk fisik marjinal VMPP adalah produk fisik marginal tenaga kerja MPP dikalikan dengan harga produk P pada setiap jumlah tenaga kerja yang digunakan. Apabila tingkat upah pasar adalah $ 80 per hari kerja, perusahaan menghadapi suatu kurva penawaran tenaga kerja yang elastis tak terhingga pada upah itu, suatu upah yang sama dengan biaya faktor marjinal bagi perusahaan. Perusahaan akan memaksimalkan keuntungan dengan cara menggunakan tenaga kerja 9 hari kerja.
c. VMMP Adalah Permintaan Perusahaan Akan Tenaga kerja
Skedul VMPP merupakan permintaan perusahaan akan tenaga kerja. Ia merupakan kurva permintaan perusahaan karena ia menentukan harga maksimum yang akan dibayarkan oleh perusahaan bagi berbagai jumlah tenaga kerja. Setiap perusahaan yang diasumsikan hendak memaksimalkan keuntungan akan tidak mau dengan sengaja membayar setiap input lebih dari pada input yang ditambahkan kepada penerimaan perusahaan secara keseluruhan.
Kurva permintaan tenaga kerja yang menunjukan kecondongan garis menurun merupakan kesimpulan utama bagi para ahli ilmu ekonomi teori neoklasik perusahaan. Perusahaan yang menghendaki keuntungan maksimal dapat memilih jumlah terbaik bagi tenaga kerja untuk digunakan. Jumlah itu dalam persaingan murni selalu merupakan jumlah yang menjadikan VMPP tenaga kerja sama dengan upah, oleh karena upah merupakan biaya marjinal bagi suatu unit tenaga kerja. Apabila tenga kerja meningkat, perusahaan akan mengurangi jumlah tenaga kerja dan sebaliknya.
III. Permintaan Tenaga Kerja Dalam Jangka Panjang
Jangka panjang dalam teori perusahaan adalah konsep perusahaan dalam melakukan penyesuaian penuh terhadap keadaan ekonomi yang berubah. Perbedaan antara permintaan tenaga kerja jangka pendek dan jangka panjang adalah perbedaan antara :
1. Penyesuaian dalam penggunaan tenaga kerja yang dapat dilakukan oleh perusahaan itu tidak sanggup mengadakan perubahan terhadap input yang lain.
2. Penyesuaian dalam penggunaan tenaga kerja yang dapat dilakukan oleh perusahaan apabila perusahaan itu sanggup mengadakan perubahan terhadap inptunya yang lain.
Permintaan adalah suatu hubungan antar harga dan kuantitas. Sehubungan dengan tenaga kerja, permintaan adalah hubungan antara tingkat upah (yang ditilik dari prespektif seorang majikan adalah harga tenaga kerja) dan kuantitas tenaga kerja yang dikehendaki oleh majikan untuk dipekerjakan (dalam hal ini dapat dikatakan dibeli). Secara khusus, suatu kurva permintaan menggambarkan jumlah maksimum yang dikehendaki seorang pembeli untuk membelinya pada setiap kemungkinan harga dalam jangka waktu tertentu. Dalam hal tenaga kerja, kurva permintaan menggambarkan jumlah maksimum tenaga kerja yang seorang tenaga kerja pengusaha bersedia untuk mempekerjakannya pada setiap kemungkinan tingkat upah dalam jangka waktu tertentu.
Oleh sebab itu tujuan kita adalah mengembangkan kerangka yang menunjukan jumlah tenaga kerja yang diminta pihak perusahaan pada berbagai macam alternatif harga tenaga kerja. Permintaan akan tenaga kerja ini kita dapatkan dari suatu perangkat keadaan yang disebut jangka pendek, yang patut menjadi bahan tinjauan tambahan yang terpaksa harus diterima oleh pengusaha, baik menyangkut harga jual produk maupun tingkat upah yang diberikan. Setelah kita kita mengembangkan permintaan perusahaan akan tenaga kerja dalam jangka waktu pendek, maka kita mengalihkan perhatian kepada permintaan tenaga kerja menggunakan berbagai macam input. Teori yang kita sajikan ini dikenal sebagai teori produktivitas marjinal tentang permintaan tenaga kerja dalam pasar-pasar yang bersaingan.
II. Permintaan Tenaga Kerja Dalam Jangka Pendek
a. Hubungan Produksi : Produk Fisik Marjinal
Gambar: isokuan produksi bagi batubara. Setiap kuantitas batubara yang diberikan dapat dihasilkan dengan berbagai macam kombinasi tenaga kerja dan modal. Misalnya, 19 ton batubara dapat dihasilkan dengan 4 unit modal dan 1 unit tenaga kerja atau dengan 3 modal dan 2 unit tenaga kerja.
Hubungan input-output pada suatu perusahaan yang khusus, digambarkan secara grafik pada gambar di atas. Unit modal yang digunakan dalam proses produksi diperlihatkan dalam sumbu vertikal; unit tenaga kerja, yang kita ukur dengan hari-hari kerja, diperlihatkan oleh garis sumbu yang horisontal. Garis-garis kurva yang disebut isokuan (isuquants) memperlihatkan berbagai macam kombinasi tenaga kerja dan modal yang dapat digunakan peruhaan untuk menghasilkan “kuantitas yang sama” dari output. Misalnya, perusahaan kita yang khusus itu, yang sengaja kita andaikan mengelola sebuah tambang batubara, dapat menambah 19 ton batubara dengan cara menggunakan lima unit modal dan dua unit tenaga kerja, atau dengan cara kombinasi lainnya antara tenaga kerja dengan modal pada isokuan yang sama. Tenaga kerja dan modal lalu merupakan subsitusi dalam proses produksi.
Sebagaimana dapat kita lihat dari gambar di atas, maka perusahaan dapat meningkatkan outputnya dari 19 ton batubara, katakanlah menjadi 27 ton dengan cara meningkatkan jumlah modal yang digunakannya, dengan cara meningkatkan jumlah modal yang digunakannya atau dengan meningkatkan jumlah tenaga kerja yang digunakannya, atau meningkatkan kedua input tsb. Apabila diberi kebebasan untuk memilih, maka pengusaha akan menghasilkan setiap jenis output khusus dengan kombinasi modal dan tenaga kerja yang paling sedikit biayanya. Akan tetapi oleh karena asumsi kita bahwa merubah kuantitas modal yang ia gunakan. Perusahaan dalam jangka pendek tidak dapat menambah output kecuali dengan menambah penggunaan tenaga kerja.
b. Skedul Nilai Produk Fisik Marjinal.
Kita telah mengasumsikan bahwa perusahaan kita menjual produknya dalam suatu pasar produk yang bersaing secara murni, gambar di bawah menunjukan penentuan harga dalam pasar produk dimana perusahaan itu menjual outputnya. Harga pasar batubara ditentukan oleh interaksi permintaan akan batubara dan penawaran batubara.
(a) Pasar (b) perusahaan
Kurva permintaan batubara, pasar dan perusahaan. Harga batubara ditentukan oleh interaksi permintaan pasar D dan penawaran S seperti pada panel a. Sebagai akibatnya, kurva permintaan dalam persaingan murni adalah elastis tak terhingga pada harga pasar $ 40.
Menjual suatu output apapun di atas harga ini, memang tidak ada alasan untuk menjual di bawah harga ini karena ia dapat menjual sebanyak mungkin batubara yan gia kehendaki dengan harga $ 40 per ton. Penerimaan perusahaan itu akan bertambah dengan $ 40 bagi setiap ton batubara yang dijualnya, suatu jumlah yang sama dengan harga penjualan produk.
Kita sekarang dapat menyusun suatu skedul yang memperlihatkan jumlah yang dapat meningkatkan penerimaan perusahaan jika ia menambah penggunaan tenaga kerja. Apabila perusahaan itu menambahkan penggunaan tenaga kerja lagi, maka penerimaannya akan bertambah dengan jumlah nilai produk fisik marjinal VMPP, yang merupakan harga dari tiap unit output P, dikalikan dengan jumlah unit output yang dihasilkan oleh unit tenaga kerja tambahan (MMP bagi tenaga kerja dari gambar di bawah) menggambarkan skedul VMMP bagi produsen batubara kita. Sebagaimana gambar memperlihatkan kepada kita, setiap urutan input tenaga kerja mengandung secara berturut-turut peneerrimaan yang makin berkurang bagi perusahaan. Hal, ini disebabkan oleh adanya diminshing returns dalam produksi. Unit tenaga kerja pertama menambahkan $ 400 bagi penerimaan perusahaan, unit yan gkedua menambahkan $ 360 dan unit yan gketiga menambahkan $ 320. Karena unit tenaga kerja yang kesebelas mempunyai MPP nol, maka penggunaan unit itu tiadak akan mendatangkan penerimaan tambahan bagi perusahaan.
Nilai produk fisik marginal bagi suatu perusahaan dalam persaingan murni nilai. Nilai produk fisik marjinal VMPP adalah produk fisik marginal tenaga kerja MPP dikalikan dengan harga produk P pada setiap jumlah tenaga kerja yang digunakan. Apabila tingkat upah pasar adalah $ 80 per hari kerja, perusahaan menghadapi suatu kurva penawaran tenaga kerja yang elastis tak terhingga pada upah itu, suatu upah yang sama dengan biaya faktor marjinal bagi perusahaan. Perusahaan akan memaksimalkan keuntungan dengan cara menggunakan tenaga kerja 9 hari kerja.
c. VMMP Adalah Permintaan Perusahaan Akan Tenaga kerja
Skedul VMPP merupakan permintaan perusahaan akan tenaga kerja. Ia merupakan kurva permintaan perusahaan karena ia menentukan harga maksimum yang akan dibayarkan oleh perusahaan bagi berbagai jumlah tenaga kerja. Setiap perusahaan yang diasumsikan hendak memaksimalkan keuntungan akan tidak mau dengan sengaja membayar setiap input lebih dari pada input yang ditambahkan kepada penerimaan perusahaan secara keseluruhan.
Kurva permintaan tenaga kerja yang menunjukan kecondongan garis menurun merupakan kesimpulan utama bagi para ahli ilmu ekonomi teori neoklasik perusahaan. Perusahaan yang menghendaki keuntungan maksimal dapat memilih jumlah terbaik bagi tenaga kerja untuk digunakan. Jumlah itu dalam persaingan murni selalu merupakan jumlah yang menjadikan VMPP tenaga kerja sama dengan upah, oleh karena upah merupakan biaya marjinal bagi suatu unit tenaga kerja. Apabila tenga kerja meningkat, perusahaan akan mengurangi jumlah tenaga kerja dan sebaliknya.
III. Permintaan Tenaga Kerja Dalam Jangka Panjang
Jangka panjang dalam teori perusahaan adalah konsep perusahaan dalam melakukan penyesuaian penuh terhadap keadaan ekonomi yang berubah. Perbedaan antara permintaan tenaga kerja jangka pendek dan jangka panjang adalah perbedaan antara :
1. Penyesuaian dalam penggunaan tenaga kerja yang dapat dilakukan oleh perusahaan itu tidak sanggup mengadakan perubahan terhadap input yang lain.
2. Penyesuaian dalam penggunaan tenaga kerja yang dapat dilakukan oleh perusahaan apabila perusahaan itu sanggup mengadakan perubahan terhadap inptunya yang lain.
II.
Fungsi produksi dan produk marjinal tenaga
kerja
Fungsi produksi (production
function) untuk menggambarkan hubungan antara jumlah input yang digunakan dalam
produksi dan jumlah hasil produksi. Input dalam contoh ini adalah “pemetik
apel” dan hasil produksi ialah “buah apel” sedangkan input yang lainnya
bernilai tetap untuk saat ini.
Produk marjinal tenaga kerja
(marginal product of labor, MPL) adalah jumlah output tambahan
yang didapat perusahaan dari satu unit tenaga kerja tambahan dengan modal
tetap,digambarkan dengan fungsi produksi:
MPL = F (K, L + 1) - F(K, L)
Sebagian besar fungsi produksi
memiliki sifat produk marjinal menurun (diminishing marginal
product) yaitu dengan modal tetap, produk marjinal tenaga kerja menurun
bila jumlah tenaga kerja meningkat.
III.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan
terhadap faktor produksi tenaga kerja
- tingkat kemajuan ekonomi
- tingkat pembangunan sektor produksi
- tingkat beragamnya job yg ada, yg menambah tingkat kebutuhan operator job
- tingkat kemajuan manjemen pelayanan
- tingkat pembangunan sektor produksi
- tingkat beragamnya job yg ada, yg menambah tingkat kebutuhan operator job
- tingkat kemajuan manjemen pelayanan
IV.
Penawaran tenaga kerja dan faktor yang
mempengaruhi pergeseran kurva penawaran tenaga kerja
Penawaran tenaga kerja merupakan
suatu hubungan antara tingkat upah dengan jumlah tenaga kerja. Menurut Ananta
(1990) penawaran terhadap pekerja adalah hubungan antara tingkat upah dengan
jumlah satuan pekerja yang disetujui oleh pensuplai untuk ditawarkan. Jumlah
satuan pekerja yang ditawarkan tergantung pada beberapa faktor yang antara lain
: banyaknya jumlah penduduk, presentase penduduk yang berada dalam angkatan
kerja, dan jam kerja yang ditawarkan oleh angkatan kerja. Simanjuntak (1985)
mendefinisikan penawaran 20
tenaga kerja merupakan jumlah usaha atau jasa kerja yang
tersedia dalam masyarakat untuk menghasilkan barang dan jasa.
Arfida (2003) menambahkan
mengenai apa yang dimaksud dengan penawaran tenaga kerja. Menurut Arfida (2003)
penawaran tenaga kerja adalah fungsi yang menggambarkan hubungan antara tingkat
upah dengan jumlah tenaga kerja yang ditawarkan. Penawaran tenaga kerja dalam
jangka pendek merupakan suatu penawaran tenaga kerja bagi pasar dimana jumlah
tenaga kerja keseluruhan yang ditawarkan bagi suatu perekonomian dapat dilihat
sebagai hasil pilihan jam kerja dan pilihan partisipasi oleh individu. Sedangkan
penawaran tenaga kerja dalam jangka panjang merupakan konsep penyesuaian yang
lebih lengkap terhadap perubahan-perubahan kendala. Penyesuaian-penyesuaian
tersebut dapat berupa perubahan-perubahan partisipasi tenaga kerja maupun
jumlah penduduk.
1. Perubahan Selera
Pada tahun 1950, hanya 34% wanita yang mencari pekerjaan,
angka ini meningkat menjadi 60% pada tahun 2000. Salah satu faktor yang
mempengaruhi adalah perubahan selera, atau sikap terhadap pekerjaan. Pada tahun
1950 merupakan hal yang wajar apabila seorang wanita hanya tinggal di rumah
sambil mengasuh anak, tetapi saat ini lebih banyak ibu rumah tangga yang
memilih untuk bekerja, dan akibatnya terjadilah peningkatan penawaran tenaga
kerja.
2. Perubahan Kesempatan Alternatif
Penawaran tenaga kerja pada setiap pasar tenaga kerja
bergantung pada kesempatan yang tersedia pada pasar tenaga kerja lainnya.
Contoh:
Apabila upah yang diperoleh para pemetik buah pir tiba-tiba
meningkat, sebagian penetik buah pir mungkin memilih untuk beralih ke pekerjaan
lain. Penawaran tenaga kerja pada pasar pemetik buah pir mengalami penurunan.
3. Imigrasi
Perpindahan pekerja dari suatu wilayah ke wilayah lain, atau
dari suatu negara ke negara lain, merupakan penyebab nyata dari pergeseran
penawaran tenaga kerja.
Contoh:
Ketika para imigran dating ke AS, penawaran tenaga kerja di
AS meningkat dan penawaran tenaga kerja di Negara asal para imigran akan
menurun.
V.
Keseimbangan/Ekuilibrium pasar tenaga
kerja
A. Keseimbangan dalam Pasar Tenaga Kerja Single
Competitif
Kurva
penawaran tenaga kerja menunjukkan jumlah jam kerja dari pekerja pada
berbagai tingkat upah. Sedangkan kurva permintaan tenaga
kerja menunjukkan jumlah jam kerja yang digunakan oleh perusahaan pada
berbagai tingkat upah. Keseimbangan terjadi pada saat penawaran tenaga kerja
sama dengan permintaan tenaga kerja yaitu di titik upah keseimbangan w* dan
jumlah jam kerja sebanyak E*. Setelah tingkat upah keseimbangan tercapai,
setiap perusahaan di dalam industri berusaha mempekerjakan orang sampai pada
titik dimana nilai marjinal produk tenaga kerja (value of marginal product
of labor) sama dengan upah di pasar kerja yang kompetitif yaitu di
titik E.
Keseimbangan
di pasar kerja yang kompetitif
Mengapa upah bisa naik turun? Dalam perekonomian yang
modern, terdapat kendala yang dihadapi berupa gangguan (shock) yang terjadi
baik di sisi permintaan maupun penawaran. Upah dan kesempatan kerja yang selalu
berubah merupakan respon dari perubahan yang terjadi dari sisi ekonomi, politik
dan sosial. Ketika pasar kerja bereaksi terhadap gangguan yang terjadi, upah
dan kesempatan kerja akan selalu bergerak menuju titik keseimbangan yang baru.
B. Keseimbangan Kompetitif antar Pasar Tenaga Kerja
Bagaimana keseimbangan pasar tenaga kerja terjadi bila di daerah utara
mempunyai upah yang lebih tinggi dari daerah selatan? Diasumsikan dua pasar ini
mempekerjakan pekerja yang memiliki ketrampilan yang sama sehingga orang yang
bekerja di daerah Utara memiliki substitusi yang sempurna dengan daerah di
Selatan. Upah keseimbangan di daerah Utara wN melebihi upah keseimbangan
di daerah Selatan wS. Kurva permintaan dan penawaran di masing-masing pasar
yaitu SN dan DN untuk daerah Utara sedangkan SS dan
DS untuk daerah Selatan. Pekerja di daerah Selatan melihat upah di daerah
Utara lebih besar, akan berpindah untuk bekerja di Utara. Penghasilan yang besar
menunjukkan tingkat kepuasan yang lebih besar. Sebaliknya perusahaan melihat
adanya perbedaan upah di kedua daerah, akan berpindah ke daerah Selatan yang
memiliki karakteristik tingkat upah yang lebih rendah dibandingkan di Utara,
sehingga perusahaan memperoleh keuntungan lebih besar dengan mempekerjakan
pekerja yang lebih murah. Jika pekerja berpindah antar daerah dengan bebbas,
perpindahan pekerja (migrasi) akan mengubah kurva penawaran baik di daerah
Utara maupun Selatan. Di daerah Selatan, kurva penawaran tenaga kerja akan
bergeser ke kiri (ke SS’) sampai sebagian pekerja di daerah Selatan
meninggalkan daerahnya menuju daerah Utara. Akibatnya karena pekerja sangat
langka di daerah Selatan, upah pekerja mengalami kenaikan. Sebaliknya di daerah
Utara, kurva penawaran tenaga kerja akan bergeser ke kanan (ke SN’), sebagai
akibat pekerja di daerah Selatan terus berdatangan. Dampaknya, upah di daerah
Utara mengalami penurunan. Jika adakebebasan bagi pekerja untuk berpindah
dan kebebasan untuk keluar atau masuk ke pasar, maka dampaknya
perekonomian nasional akan menghasilkan tingakat upah tunggal yaitu sebesar w*.
C. Keseimbangan dalam Pasar
Tenaga Kerja Monopsoni
Jenis perusahaan monopsoni yaitu:
perusahaan monopsoni dengan diskriminasi murni
perusahaan monopsoni nondiskriminatif
a. Perusahaan monopsoni dengan diskriminasi murni
Perusahaan monopsoni dengan diskriminasi murni dapat
mempekerjakan pekerja pada berbagai tingkat upah. Pada dasarnya perusahaan
monopsoni tidak dapat mempengaruhi harga output di pasar. Keuntungan
perusahaan yang diperoleh jika menambah pekerja sama dengan harga produknya
dikalikan dengan marjinal produk tenaga kerja yang bersifat kompetitif,
ditunjukkan oleh kurva nilai marjinal produknya. Perusahaan monopsoni dengan
diskriminasi murni akan mempekerjakan orang sampai kondisi dimana nilai upah
pekerja terakhir yang disewanya sama dengan biaya mempekerjakan pekerja
terakhir tersebut. Atau sampai kondisi dimana kontribusi pekerja terakhir
terhadap penerimaan perusahaan sama dengan ongkos marjinal pekerja. Pekerja
terakhir ini merupakan pekerja yang menerima upah sesuai kemampuan tertinggi
perusahaan untuk menarik pekerja yang ada di pasar. Apabila setelah ini ada
pekerja lain yang masuk perusahaan tersebut, akan dibayar dengan tingkat upah
reservasi. Keseimbangan pasar terjadi di titik A, dimana penawaran sama dengan
permintaannya. Perusahaan monopsoni dengan diskriminasi murni mempekerjakan
pekerja sebear E*, persis sama dengan tingkat kesempatan kerja pada pasar
kompetitif. Upah w* bukan merupakan upah yang kompetitif. Upah itu merupakan
tingkat upah yang harus dibayar oleh perusahaan monopsoni untuk menarik pekerja
yang terakhir yang ada di pasar.
b. Perusahaan monopsoni nondiskriminatif.
Perusahaan monopsoni nondiskriminasi harus membayar seluruh
pekerja pada tingkat yang sama, tanpa mempedulikan upah reservasi pekerja. Hal
ini disebabkan oleh perusahaan monopsoni nondiskriminasi harus menaikkan upah
terhadap seluruh pekerja karena keinginan perusahaan untuk mempekerjakan lebih
banyak pekerja sehingga kurva penawaran tenaga kerja tidak lagi menjadi biaya
marjinal pekerja. Upah akan meningkat pada saat perusahaan monopsoni
nondiskriminasi mempekerjakan lebih banyak pekerja, sehingga kurva ongkos
marjinal tenaga kerja memiliki slope positif. Ongkos marjinal pekerja meningkat
lebih besar dibandingkan dengan tingkat upah dan berada diatas kurva penawaran
tenaga kerjanya. Perusahaan monopsoni akan memaksimumkan keuntungan dengan
mempekerjakan orang sampai pada tahap dimana ongkos marjinal tenaga kerja sama
dengan nilai marjinal produknya (titik A). Jika perusahaan mempekerjakan
pekerja lebih rendah dari EM, maka nilai produk marjinalnya melebihi ongkos
marjinal tenaga kerjanya dan perusahaan akan menambah pekerja. Sebaliknya, jika
perusahaan mempekerjakan lebih dari EM, ongkos marjinalnya melebihi kontribusi
pekerja bagi perusahaan dan perusahaan akan memberhentikan beberapa karyawan.
Kondisi keuntungan maksimum bagi perusahaan monopsoni nondiskriminasi yaitu
MCE = VMPE.
Karakteristik keseimbangan pasar monopsoni dibandingkan
dengan pasar kompetitif. Pertama, perusahaan monopsoni nondiskriminatif
mempekerjakan orang lebih sedikit dibandingkan di pasar kompetitif sehingga
pada pasar monopsoni akan terjadi pengangguran. Kedua, upah pada pasar
monopsoni sebesar wM lebih kecil dari upah di pasar kompetitif w* dan juga
lebih kecil dari nilai marjinal produknya yaitu VMPM.
D. Keseimbangan dalam Pasar
Tenaga Kerja Monopoli
Perusahaan monopoli mampu dan bebas mempengaruhi harga
output di pasar (harga jual barang). Perusahaan monopoli akan memproduksi
barang sampai keuntungan marjinal sama dengan ongkos. Karena perusahaan
monopoli dapat menentukan harga jual, maka perusahaan dapat mempekerjakan
tenaga kerja sesuai dengan keinginannya dan pada upah yang telah ditentukan
perusahaan (misal sebesar w). Keuntungan perusahaan akan maksimal jika pada
penggunaan tenaga kerja sebesar E1, yaitu pada saat W=MRPE (titik A). Jika
jumlah pekerja lebih kecil dari E1, dengan adanya tambahan pekerja, perusahaan
akan mendapatkan keuntungan. Hal ini karena ongkos mempekerjakan lebih kecil
dari keuntungan yang diperoleh. Sebaliknya, jika perusahaan mempekerjakan orang
yang lebih besar dari E1, pekerja terakhir yang disewa menghasilkan keuntungan
yang lebih kecil dari ongkos mempekerjakannya. Jika perusahaan berada pada
pasar yang kompetitif, maka akan mempekerjakan sampai pada titik dimana upah
sama dengan nilai marjinal produknya yaitu sebesar E2.
VI.
Keseimbangan di pasar tanah dan modal
Apa yang menentukan besarnya
pendapatan yang diperoleh para pemilik tanah dan modal atau kontribusi mereka
bagi proses produksi? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita perlu membedakan
dua jenis harga: harga pembeli dan harga sewa. Harga pembeli tanah dan modal
merupakan harga yang dibayarkan seseorang untuk memiliki faktor produksi
tersebut selamanya. Harga sewa merupakan harga yang dibayarkan seseorang untuk
menggunakan faktor produksi tersebut untuk jangka waktu terbatas. Penting untuk
menginat perbedaan ini karena, seperti yang akan kita lihat, kedua harga ini
ditentukan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi yang berbeda.
Setelah
mendefinisikan istilah-istilah ini, kita sekarang dapat menerapkan teori
permintaan faktor produksi, yang telah dikembangkan untuk pasar tenaga kerja,
pada pasar tanah dan modal. Sebenarnya, secara sederhana, upah merupakan harga
sewa tenaga kerja. Oleh sebab itu, banyak hal yang telah kita pelajari mengenai
penentuan upah dapat diterapkan juga pada harga sewa tanah dan modal. Seperti
yang digambarkan pada figur 7, harga sewa tanah ditunjukkan pada panel (a), dan
harga sewa modal, ditunjukkan pada panel (b), ditentukan oleh penawaran dan
permintaan. Terlebih lagi, permintaan tanah dan modal ditentukan dengan cara
yang sama seperti permintaan tenaga kerja. Ketika perusahaan yang memproduksi
buah apel memutuskan berapa luas tanah dan banyak tenaga yang akan disewa, perusahaan akan mengikuti cara
berpikir yang sama ketika memutuskan jumlah pekerja yang akan dipekerjakan.
Untuk tanah dan modal, perusahaan meningkatkan jumlah yang disewa hingga nilai
produk marginal faktor produksi sama dengan faktor produksi. Jadi, kurva
permintaan untuk masing-masing faktor mencerminkan produktivitas marginal dari
faktor tersebut.
Kita sekarang dapat
menjelaskan berapa besar pendapatan yang diperoleh tenaga kerja, berapa besar
yang diperoleh para pemilik tanah, dan berapa besar yang diperoleh para pemilik
modal. Selama perusahaan yang mengguanakan faktor-faktor produksi bersifat
kompetitif dan memaksimalkan keuntungan, masing-masing harga sewa faktor
produksi harus sama dengan nilai produk marginal faktor tersebut. Tenaga kerja,
tanah, dan modal, masing-masing memberikan nilai kontribusi marginal bagi
proses produksi.
Sekarang perhatikan harga beli
tanah dan modal. Harga sewa dan harga beli beli tentu saja berhubungan: pembeli
rela membayar lebih untuk sepetak tanah atau sebentuk modal jika tanah atau
modal itu menghasilkan aliran pendapatan sewa yang besar. Dan, sebagaimana kita
baru saja lihat, pendapatan sewa keseimbangan pada titik manapun dalam ukuran
waktu, sama dengan nilai dari produk margnal faktor tersebut. Oleh sebab itu,
harga beli keseimbangan dari sepetak tanah atau sebentuk modal bergantung pada
nilai produk marginal sekarang dan nilai produk marginal yang diharapkan muncul
di masa depan.
VII.
Hubungan antar beberapa faktor produksi
Kita telah melihat bahwa harga
yang dibayarkan untuk setiap faktor produksi tenaga kerja, tanah, atau modal
sama dengan nilai produk marginal dari faktor produksi tersebut. Produk
marginal dari setiap faktor produksi akan bergantung pada jumlah tersebut. Produk
marginal dari setiap faktor produksi akan bergantung pada jumlah faktor
tersebut yang tersedia. Karena perilaku penurunan produk marginal, suatu faktor
produksi yang ditawarkan dengan berlimpah memiliki produk dan harga yang
rendah, dan sebuah faktor produksi yang jarang ditawarkan memiliki produksi
marginal dan harga yang tinggi. Akibatnya, ketiak penawaran faktor-faktor
produksi turun, keseimbangan harga faktor produksi meningkat.
Akan tetapi, ketika penawaran
setiap faktor produksi berubah, dampaknya tidak hanya dibatasi pada pasar
faktor produksi tersebut. Pada berbagai situasi umum, faktor-faktor produksi
digunakan bersama-sama dalam cara tertentu sehingga membuat produktivitas
masing-masing faktor bergantung pada jumlah faktor produksi lainnya yang
tersedia untuk digunakan dalam proses produksi. Sebagai hasilnya, perubahan
dalam penawaran setiap faktor produksi akan mempengaruhi pendapatan dari semua
faktor produksi lainnya.
Akan tetapi, ketika penawaran
setiap faktor produksi berubah, dampaknya tidak hanya dibatasi pada pasar
faktor produksi tersebut. Pada berbagai situasi umum, faktor-faktor produksi
digunakan bersama-sama dalam cara tertentu sehingga membuat produktivitas
masing-masing faktor bergantung pada jumlah faktor produksi lainnya yang tersedia
untuk digunakan dalam proses produksi. Sebagai hasilnya, perubahan dalam
penawaran setiap faktor produksi akan mempengaruhi pendapatan dari semua faktor
produksi lainnya.
Sebagai contoh, angin ribut
menghancurkan tangga-tangga yang digunakan para pekerja untuk memetik buah-buah
apel dari pohonnya. Apa yang terjadi pada pendapatan dari berbagai faktor
produksi lainnya? Yang paling jelas, penawaran tangga turun dan, oleh karena
itu, keseimbangan harga sewa tangga meningkat. Para pemilik tangga yang cukup
beruntung karena berhasil menghindari kerusakan tangga-tangga mereka sekarang
memperoleh pendapatan yang lebih tinggi ketika mereka menyewakan tangga-tangga
pada perusahaan yang memproduksi buah apel.
Namun, akibat-akibat dari
peristiwa ini tidak berhenti pada pasar tangga saja. Karena hanya ada sedikit
tangga yang dapat digunakan untuk bekerja, para pekerja yang memetik buah apel
memiliki produk yang lebih rendah. Jadi, berkurangnya penawaran tangga
menurunkan permintaan tanaga kerja pemetik buah apel, dan ini menyebabkan
keseimbangan upah turun.
MINGGU KE-12
Barang publik dan eksternalitas
Barang publik adalah barang yang
apabila dikonsumsi oleh individu tidak akan habis untuk individu lainnya,
barang publik yang disediakan pemerintah merupakan barang milik pemerintah yang
dibiayai melalui anggaran belanja Negara
Eksternalitas
adalah kerugian atau keuntungan yang diderita atau dinikmati pelaku ekonomi
karena tindakan pelaku ekonomi lain yang tidak tercermin dalam harga pasar.
I.
Eksternalitas dan Efisiensi pasar
Eksternalitas adalah kerugian
atau keuntungan yang diderita atau dinikmati pelaku ekonomi karena tindakan
pelaku ekonomi lain yang tidak tercermin dalam harga pasar.
Sedangkan efisiensi pasar adalah
suatu keadaan apabila suatu pasar sudah dapat mengalokasikan seluruh
sumber-sumber daya yang pada umumnya secara efisien.
II.
Teori kesejahteraan ekonomi
Teori kesejahteraan ekonomi
adalah cabang ilmu ekonomi yang menggunakan teknik ekonomi mikro untuk
mengevaluasi kesejahteraan ekonomi, terutama relatif terhadap keseimbangan umum
kompetitif dalam ekonomi untuk efisiensi ekonomi dan distribusi pendapatan yang
dihasilkan yang terkait dengannya. Menganalisis kesejahteraan sosial, secara
terukur, dalam hal kegiatan ekonomi dari individu yang terdiri dari masyarakat
teoritis yang dipertimbangkan. Dengan demikian, individu, dengan kegiatan
ekonomi yang terkait, merupakan unit dasar penggabungan untuk kesejahteraan
sosial, apakah kelompok, komunitas, atau masyarakat, dan tidaklah ada
“kesejahteraan sosial” yang terpisah dari “kesejahteraan” yang berhubungan
dengan unit-unit individu.
Kesejahteraan ekonomi biasanya memerlukan preferensi individu seperti yang diberikan dan menetapkan peningkatan kesejahteraan dalam hal efisiensi pareto dari keadaan sosial A ke keadaan sosial B jika setidaknya satu orang lebih menyukai B dan tak ada orang lain yang menentangnya. Tidak ada persyaratan ukuran kuantitatif yang unik dari peningkatan kesejahteraan yang tersirat dengan hal ini. Aspek lain dari kesejahteraan memperlakukan pendapatan / distribusi barang, termasuk kesetaraan, sebagai dimensi kesejahteraan lebih lanjut
Kesejahteraan ekonomi biasanya memerlukan preferensi individu seperti yang diberikan dan menetapkan peningkatan kesejahteraan dalam hal efisiensi pareto dari keadaan sosial A ke keadaan sosial B jika setidaknya satu orang lebih menyukai B dan tak ada orang lain yang menentangnya. Tidak ada persyaratan ukuran kuantitatif yang unik dari peningkatan kesejahteraan yang tersirat dengan hal ini. Aspek lain dari kesejahteraan memperlakukan pendapatan / distribusi barang, termasuk kesetaraan, sebagai dimensi kesejahteraan lebih lanjut
III.
Eksternalitas negatif dan positif dalam
produksi maupun konsumsi
Eksternalitas negatif dan positif dalam produksi maupun
konsumsi
Ketika seseorang terlibat dalam suatu aktivitas yang
mempengaruhi kesejahteraan, meskipun tidak secara langsung dan belum membayar
maupun belum menerima kompensasi atas dampak tersebut.
Ketika pengaruhnya terhadap lingkungan kurang baik,
eksternalitas disebut sebagai eksternalitas negatif.
Ketika pengaruhnya pada lingkungan mendatangkan manfaat,
eksternalitas disebut sebagaieksternalitas positif.
Eksternalitas dalam produksi
Eksternalitas negatif:
Dalam melangsungkan kegiatan produksinya, pabrik-pabrik
aluminium menimbulkan polusi. Untuk setiap aluminium yang mereka produksi,
sejumlah asap kotor yang mengotori atmosfer tersembur dari tanur pabrik-pabrik
tersebut. Karena asap itu membahayakan kesehatan siapa saja yang menghirupnya,
maka asap itu merupakan eksternalitas negatif dalam produksi aluminium.
Eksternalitas positif:
Contoh yang dapat dikemukakan disini adalah pasar robot
industri (robot yang khusus dirancang untuk melakukan kegiatan atau fungsi
tertentu di pabrik-pabrik).
Robot adalah ujung tombak kemajuan teknologi yang mutakhir.
Sebuah perusahaan yang mampu membuat robot, akan berkesempatan besar menemukan
rancangan-rancangan rekayasa baru yang serba lebih baik. Rancangan ini tidak
hanya akan menguntungkan perusahaan yang bersangkutan, namun juga masyarakat
secara keseluruhan karena pada akhirnya rancangan itu akan menjadi pengetahuan
umum yang bermanfaat. Eksternalitas positif seperti ini biasa disebut “imbasan
teknologi” (technology spillover).
Eksternalitas dalam konsumsi
Eksternalitas negatif:
Konsumsi minuman beralkohol, misalnya, mengandung
eksternalitas negatif jika si peminum lantas mengemudikan mobil dalam keadaan
mabuk atau setengah mabuk, sehingga membahayakan pemakai jalan lainnya.
Eksternalitas positif:
Contohnya adalah konsumsi pendidikan. Semakin banyak orang
yang terdidik, masyarakat atau pemerintahnya akan diuntungkan. Pemerintah akan
lebih mudah merekrut tenaga-tenaga cakap, sehingga pemerintah lebih mampu
menjalankan fungsinya dalam melayani masyarakat.
IV.
Kebijakan publik dalam mengatasi
eksternalitas
Setiap kali eksternalitas muncul
sehingga mengakibatkan alokasi sumber daya yang dilakukan pasar tidak efisien, pemerintah
dalam melakukan salah satu dari dua pilihan tindakan yang ada. Pilihan pertama
adalah menerapkan kebijakan-kebijakan atau pendekatan komando dan kontrol
(command-and-control policies), atau menerapkan kebijakan-kebijakan berdasarkan
pendekatan pasar (market-base policies). Bagi para ekonom, pilihan kedua lebih
baik, karena kebijakan berdasarkan pendekatan pasar akan mendorong para pembuat
keputusan di pasar swasta, untuk secara sukarela memilih mengatasi masalahnya
sendiri.
V.
Barang-barang publik
Barang publik (public goods)
adalah barang yang apabila dikonsumsi oleh individu tertentu tidak akan
mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut. Selanjutnya, barang publik
sempurna (pure public good) didefinisikan sebagai barang yang harus disediakan
dalam jumlah dan kualitas yang sama terhadap seluruh anggota masyarakat.
VI.
Sumber daya milik bersama
Keberadaan sumber daya
bersama–SDB (common resources) atau akses terbuka terhadap sumber daya tertentu
ini tidak jauh berbeda dengan keberadaan barang publik diatas. Sumber-sumber
daya milik bersama, sama halnya dengan barang-barang publik, tidak ekskludabel.
Sumber-sumber daya ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya, dan
Cuma-Cuma. Namun tidak seperti barang publik, sumber daya milik bersama
memiliki sifat bersaingan. Pemanfaatannya oleh seseorang, akan mengurangi
peluang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Jadi, keberadaan sumber
daya milik bersama ini, pemerintah juga perlu mempertimbangkan seberapa banyak
pemanfaatannya yang efisien. Contoh klasik tentang bagaimana eksternalitas
terjadi pada kasus SDB ini adalah seperti yang diperkenalkan oleh Hardin (1968)
yang dikenal dengan istilah Tragedi Barang Umum (the Tragedy of the Commons).
VII.
Pentingnya hak kepemilikan (property
right)
Salah satu bentuk kebijakan teknologi yang paling banyak
didukung oleh para ekonom adalah kebijakan perlindungan hak cipta. Hukum paten
melindungi hak eksklusif para pencipta atau penemu untuk memanfaatkan sendiri
penemuannya, selama jangka waktu tertentu (setelah itu penemuannya dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat luas). Disini hukum paten itu dapat dikatakan
berfungsi melakukan internalisasai eksternalitas (positif). Dengan memberikan
hak cipta (property rights) Kepada setiap perusahaan atas penemuan-penemuan
barunya. Perusahaan lain atau siapa saja yang berminat untuk turut memanfaatkan
penemuan baru itu harus meminta izin kepada penemunya, dan memebayar sejumlah
royalti. Dengan cara ini, hukum paten memberikan insentif lebih besar kepada
semua perusahaan, untuk mencurahkan lebih banyak dana dan perhatian untuk
menemukan teknologi-teknologi baru yang bermanfaat.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar